Dewasa ini kita masih sering melihat fenomena ''malas ke dokter gigi'' pada masyarakat. Umumnya orang memilih untuk datang ke dokter gigi hanya saat mereka sudah merasa tidak nyaman karena rasa sakit pada giginya. Mengapa fenomena ini bisa terjadi? Salah satunya adalah karena adanya ketakutan atau kekhawatiran pada diri pasien.
Rasa takut itu bisa saja ditimbulkan oleh beberapa hal, antara lain karena pernah mengalami riwayat pengobatan terhadap masalah gigi yang kurang menyenangkan, pengaruh orang tua dan lingkungan yang mungkin sejak kecil sudah menjadikan klinik gigi sebagai "ancaman" bagi anak-anak mereka agar tidak nakal, atau karena "penampilan" operator dalam hal ini dokter atau perawat gigi.
Dalam profesi kedokteran, komunikasi antara dokter dengan pasien adalah sangat penting. Kemampuan dokter untuk berkomunikasi dengan pasien secara efektif menentukan keberhasilan perawatan. Memang tidak mudah untuk menggali informasi yang lengkap dari pasien yang datang ke klinik atau tempat praktek. Dibutuhkan hubungan saling percaya yang dilandasi dengan keterbukaan sehingga pasien mau memberikan keterangan yang lengkap yang nantinya akan membantu kita sebagai dokter dalam mendiagnosis dan membuat rencana perawatan yang tepat bagi pasien.
Komunikasi yang terjadi antara dokter gigi dan pasien sendiri dikatakan baik dan efektif ketika pasien mengerti dan menyepakati setiap tindakan perawatan yang akan dilakukan oleh dokter gigi sebagai wujud pengobatan terhadap penyakit yang dideritanya.
Secara umum ada 4 tahapan yang perlu dilakukan untuk membangun suatu komunikasi yang baik dan efektif yaitu:
- Beri salam dan sapaan hangat saat bertemu....Hal ini menunjukkan bahwa kita bersedia meluangkan waktu untuk berbicara dengannya.
- Usahakan berkomunikasi dua arah... Sangat penting untuk dilakukan dalam percakapan antara dokter dan pasien. Jangan sampai pasien merasa bahwa hanya dokter yang berhak berbicara panjang lebar sehingga merasa lebih rendah dari dokter. Dorong pasien agar mau mengemukakan pikiran dan perasaannya. Tunjukkan pula bahwa dokter memahami dan menghargai apa yang dia rasakan.
- Beri penjelasan... Jelaskan mengenai hal-hal yang ingin diketahuinya, tentang penyakit yang dia derita, tentang perawatan yang harus dilakukan dan sebagainya. Luruskan persepsi pasien yang keliru tentang penyakit atau apapun yang berhubungan dengan hal tersebut.
- Recall the " important" one....Penjelasan yang telah diberikan mungkin tidak seluruhnya mampu diingat oleh pasien. Ingatkan kembali tentang informasi kesehatan yang penting yang harus diketahui dan jangan lupa untuk selalu melakukan klarifikasi apakah pasien telah benar-benar mengerti atau tentang apa saja yang masih belum jelas bagi kedua belah pihak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar